
DiYES International School menyoroti pentingnya parenting kolaboratif orang tua dan guru untuk menciptakan pola asuh konsisten di rumah dan sekolah.
Tanpa komunikasi yang terarah, anak sering menerima pesan berbeda dari rumah dan sekolah. Parenting kolaboratif orang tua dan guru membuat aturan, nilai, dan batasan menjadi lebih seragam.
Akibatnya, anak merasa lebih aman karena tahu apa yang diharapkan dari dirinya. Selain itu, sikap dan perilaku anak lebih mudah diarahkan, sebab ia tidak bingung dengan standar yang berubah-ubah.
Di sisi lain, guru merasa terbantu karena dukungan keluarga membuat intervensi di kelas lebih efektif. Orang tua pun lebih percaya diri, karena mendapat masukan konkret dari profesional yang memahami perkembangan anak.
Inti parenting kolaboratif orang tua dan guru adalah saling menghargai peran. Orang tua ahli terhadap karakter anak, sementara guru ahli dalam dinamika kelas dan proses belajar.
Karena itu, keduanya perlu menghindari sikap saling menyalahkan saat masalah muncul. Fokus utama harus tetap pada kebutuhan anak, bukan ego orang dewasa.
Beberapa prinsip yang perlu dipegang bersama antara lain:
Namun, prinsip ini hanya berjalan jika ada kepercayaan. Guru harus menunjukkan empati pada situasi keluarga, sementara orang tua menghargai profesionalitas guru.
Langkah awal parenting kolaboratif orang tua dan guru adalah menyamakan nilai dasar. Misalnya tentang kedisiplinan, kejujuran, kemandirian, dan empati.
Orang tua dan guru dapat berdiskusi: perilaku apa yang dianggap penting? Kebiasaan apa yang ingin dibangun selama setahun ajaran?
Setelah itu, buat harapan yang jelas dan mudah dipahami anak. Contohnya:
As a result, anak tidak merasa aturan di sekolah dan rumah bertolak belakang. Ia justru melihat bahwa orang dewasa di sekitarnya kompak dan saling mendukung.
Komunikasi adalah jantung parenting kolaboratif orang tua dan guru. Tanpa komunikasi rutin, kerja sama hanya tinggal konsep di atas kertas.
Beberapa strategi yang bisa diterapkan:
Sementara itu, orang tua disarankan memberi informasi jika ada perubahan besar di rumah, seperti kelahiran adik, pindah rumah, atau konflik keluarga. Hal ini memudahkan guru memahami perubahan emosi dan perilaku anak.
Konsistensi adalah hasil nyata dari parenting kolaboratif orang tua dan guru. Aturan yang sama dan bahasa yang serupa membuat anak lebih mudah mengikuti arahan.
Contoh penerapan konsistensi:
Namun, konsistensi tidak berarti semua persis sama. Gaya tiap keluarga berbeda. Yang penting adalah pesan inti yang serupa: disiplin, tanggung jawab, dan rasa hormat.
Baca Juga: Cara efektif orang tua dan guru membangun kerja sama positif
Peran utama orang tua dalam parenting kolaboratif orang tua dan guru adalah memperkuat proses belajar di rumah. Guru mengenalkan konsep, orang tua membantu mengulang dan mempraktikkan.
Beberapa bentuk dukungan konkret:
Selain itu, orang tua dapat menanyakan strategi yang dipakai guru ketika anak sulit fokus. Strategi tersebut bisa dicoba di rumah agar anak merasakan pola yang sama.
Dalam parenting kolaboratif orang tua dan guru, pihak sekolah juga perlu fleksibel terhadap situasi keluarga yang beragam. Tidak semua orang tua punya waktu dan sumber daya yang sama.
Guru dapat:
Meski begitu, guru tetap perlu tegas menjaga batas profesional. Hubungan yang sehat ditandai kerja sama dan saling dukung, bukan tuntutan berlebihan.
Bahkan dalam parenting kolaboratif orang tua dan guru yang baik, konflik tetap bisa muncul. Misalnya orang tua tidak setuju dengan konsekuensi yang diberikan guru, atau guru menilai orang tua terlalu memanjakan.
Untuk menghadapinya, beberapa langkah yang dapat diambil:
On the other hand, jika terjadi pelanggaran serius, orang tua berhak meminta penjelasan lengkap. Sekolah pun wajib transparan dalam menyampaikan kronologi dan dasar kebijakan.
Sebuah kelas dapat menerapkan parenting kolaboratif orang tua dan guru dengan program sederhana. Misalnya, setiap awal bulan dilakukan pertemuan singkat, baik daring maupun luring, untuk membahas fokus perilaku yang ingin diperbaiki.
Guru dan orang tua menyusun target bersama, seperti “lebih mandiri mengerjakan tugas” atau “lebih sopan saat menegur teman”. Target ini kemudian diterjemahkan menjadi langkah praktis di rumah dan sekolah.
Informasi perkembangan bisa dibagikan melalui catatan singkat. Jika ada kemajuan, baik guru maupun orang tua memberi apresiasi yang konsisten. Karena itu, anak merasa disorot secara positif, bukan hanya saat berbuat salah.
Penerapan rutin akan membuat parenting kolaboratif orang tua dan guru menjadi budaya, bukan sekadar program sesaat. Setelah itu, hubungan sekolah dan keluarga akan terasa lebih hangat dan saling percaya.
Pada akhirnya, parenting kolaboratif orang tua dan guru adalah investasi jangka panjang bagi perkembangan anak. Konsistensi aturan, komunikasi yang terbuka, dan saling menghargai membuat anak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung.
Parenting kolaboratif orang tua dan guru juga mengajarkan teladan penting. Anak melihat bagaimana orang dewasa menyelesaikan masalah dengan diskusi, bukan konflik. Dengan begitu, ia belajar menghargai perbedaan dan membangun kerja sama.
Therefore, mempertahankan parenting kolaboratif orang tua dan guru bukan hanya tentang kenyamanan sekolah saat ini. Ini tentang menyiapkan anak menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan mampu berelasi sehat di berbagai lingkungan.
Pada setiap tahap pendidikan, parenting kolaboratif orang tua dan guru layak dijaga dan diperkuat. Parenting kolaboratif orang tua akan terus memberi dampak positif bagi keseimbangan emosi, karakter, dan prestasi belajar anak.