
DiYES International School – Kesehatan emosional anak berisiko sering terganggu ketika mereka tumbuh di kawasan dengan ancaman perdagangan manusia, karena rasa takut, tekanan sosial, dan kurangnya perlindungan yang memadai.
Anak yang hidup di wilayah rawan perdagangan manusia menghadapi tekanan psikologis yang lebih berat dibanding lingkungan biasa. Mereka mungkin menyaksikan kekerasan, ancaman, atau praktik eksploitasi yang menimbulkan rasa cemas dan tidak aman. Kondisi ini dapat merusak kesehatan emosional anak berisiko sejak usia dini.
Dalam situasi seperti ini, anak cenderung mengalami kegelisahan, sulit tidur, mimpi buruk, atau menarik diri dari pergaulan. Bahkan, beberapa anak menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk pertahanan diri. Jika tidak ditangani, masalah tersebut bisa berkembang menjadi trauma jangka panjang yang memengaruhi perkembangan belajar dan hubungan sosial.
Keluarga, guru, dan tokoh masyarakat perlu peka terhadap perubahan perilaku tersebut. Pemeriksaan rutin terhadap kondisi psikologis, bukan hanya fisik, penting untuk menjaga kesehatan emosional anak berisiko agar mereka merasa dilihat, didengar, dan dilindungi.
Lingkungan yang miskin, penuh kekerasan, serta minim pengawasan hukum memberi peluang besar bagi jaringan perdagangan manusia. Anak yang tumbuh di situasi ini sering melihat tindakan mencurigakan dianggap hal biasa. Akibatnya, batas antara perilaku aman dan berbahaya menjadi kabur di mata mereka.
Ketiadaan ruang bermain aman, akses pendidikan terbatas, dan kurangnya layanan konseling memperburuk keadaan. Banyak anak dipaksa bekerja atau membantu ekonomi keluarga sebelum waktunya, sehingga tidak punya ruang untuk mengekspresikan emosi secara sehat. Hal inilah yang melemahkan kesehatan emosional anak berisiko dalam jangka panjang.
Selain itu, normalisasi kekerasan dalam rumah tangga maupun lingkungan sekitar menanamkan pesan keliru bahwa pelecehan dan eksploitasi adalah bagian wajar dari kehidupan. Anak pun menjadi lebih mudah dimanipulasi pelaku, karena tidak memiliki pemahaman utuh tentang hak dan batasan tubuh mereka sendiri.
Keluarga adalah pelindung pertama yang dapat memperkuat kesehatan emosional anak berisiko. Komunikasi hangat dan terbuka membantu anak berani bercerita saat merasa tidak aman. Orang tua yang hadir secara emosional dapat menangkap sinyal dini ketika anak menghadapi ancaman atau tekanan dari luar.
Orang tua perlu mengajarkan konsep batasan diri, persetujuan, dan hak anak untuk menolak ajakan yang membuat mereka tidak nyaman. Sementara itu, cara mendisiplinkan anak harus menghindari kekerasan fisik dan verbal, karena hanya menambah luka emosional yang sudah berat.
Di sisi lain, dukungan keluarga juga berupa pemenuhan kebutuhan dasar, seperti makanan, pendidikan, dan waktu bersama. Kegiatan sederhana seperti makan bersama, bermain, atau membaca cerita dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa aman. Dengan begitu, keluarga turut menjaga kesehatan emosional anak berisiko lewat rutinitas sehari-hari yang positif.
Baca Juga: Perlindungan anak dan kesehatan mental di wilayah berisiko
Sekolah memegang peran penting dalam membangun kesehatan emosional anak berisiko, khususnya di lingkungan yang terpapar perdagangan manusia. Guru yang terlatih dapat mengenali tanda stres, depresi, atau trauma pada murid melalui perubahan perilaku dan penurunan prestasi belajar.
Program sekolah yang aman harus menyediakan ruang konseling dan kegiatan pembelajaran tentang hak anak, keselamatan diri, serta cara meminta bantuan. Ketika murid memahami haknya, mereka lebih kritis terhadap ajakan mencurigakan dari orang tidak dikenal, termasuk tawaran kerja atau perjalanan yang tampak menggiurkan.
Selain pembelajaran formal, kegiatan ekstrakurikuler seperti seni, olahraga, dan diskusi kelompok memberi kesempatan anak menyalurkan emosi secara sehat. Lingkungan sekolah yang inklusif akan memperkuat kesehatan emosional anak berisiko dan mengurangi rasa terisolasi, sehingga mereka tidak mudah menjadi sasaran bujuk rayu pelaku.
Komunitas yang peduli dapat menjadi benteng tambahan bagi kesehatan emosional anak berisiko. Kelompok warga, organisasi keagamaan, dan lembaga sosial dapat menyelenggarakan edukasi tentang bahaya perdagangan manusia dan cara melindungi anak. Dengan peningkatan pengetahuan, masyarakat lebih cepat melaporkan aktivitas mencurigakan.
Layanan dukungan psikologis seperti pusat konseling, hotline darurat, dan kelompok dukungan sebaya juga sangat penting. Tenaga profesional dapat membantu anak memproses pengalaman traumatis, mengurangi rasa bersalah, serta membangun kembali rasa percaya pada orang dewasa yang aman.
Program pelatihan bagi relawan dan tokoh masyarakat mengenai kesehatan emosional anak berisiko juga perlu digalakkan. Mereka sering menjadi pihak pertama yang dihubungi keluarga, sehingga kemampuan memberikan respons empatik dan rujukan tepat akan menentukan keberhasilan pemulihan anak.
Perlindungan anak di wilayah rawan perdagangan manusia membutuhkan kerja sama berlapis antara keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah. Upaya pencegahan, penindakan hukum, dan dukungan psikologis harus berjalan bersamaan agar kesehatan emosional anak berisiko tetap terjaga.
Ketika semua pihak memahami tanda bahaya dan tahu ke mana harus melapor, peluang pelaku memanfaatkan kerentanan anak akan berkurang. Anak pun dapat tumbuh dengan rasa aman, kepercayaan diri, dan harapan masa depan yang lebih baik.
Pada akhirnya, setiap kebijakan dan program perlindungan wajib menempatkan kesehatan emosional anak berisiko sebagai prioritas. Tanpa dukungan menyeluruh pada aspek psikologis, pemulihan mereka dari situasi berbahaya tidak akan tuntas dan risiko kekambuhan trauma tetap tinggi.